BANTENEXPRES - Pada akhir Juni 1596, sebanyak 297 awak kapal mendarat di Pelabuhan Karangantu Banten setelah 14 bulan terombang-ambing di lautan. Pimpinan ekspedisi saat itu adalah Cornelis de Houtman yang juga mengepalai urusan perdagangan. Sementara Pieter de Keyser pegang navigasi
Ekspedisi Houtman bermodal catatan seorang Belanda yang bekerja di pelayaran Portugis, Huygen van Linschoten (1563-1611). Catatan yang terbit pada 1595 itu dikenal dengan 'Reysgeschrift', lebih populer dikenal Itinerario. Rute rahasia yang ia selundupkan dari Lisbon, Portugal hingga sampai ke para pelaut di Pelabuhan Amsterdam.
Saat Cornelis datang, situasi Banten, mengutip Ragam Pusaka Budaya Banten (2019), telah dibangun kemegahan pelabuhan, pasar, hingga gudang. Pelabuhan Karangantu difungsikan Kesultanan Banten sebagai pasar dengan lada sebagai komoditas utama.
Toko-toko berdiri mengitari pelabuhan. Membentuk jantung permukiman. William Lodewijk, saudagar Belanda yang ikut dalam rombongan Cornelis menghitung setidaknya ada 36 kapal asing yang berlabuh di Banten kala itu. Mulai dari Portugis, Arab, Persia, China hingga Gujarat.
Kedatangan Cornelis pada 1596 awalnya disambut baik. Banten kala itu dipimpin oleh Sultan Abdul Mafakhir. Penyambutan bahkan telah dimulai dari tengah laut. Kapal-kapal Belanda dijamu dengan makanan terhebat, disuguhi hiburan terbaik.
Satu bulan berlalu, belum ada tingkah ganjil Cornelis Cs di Banten. Kondisi serupa berjalan hingga bulan ketiga. Namun, pada bulan keempat, gejolak terjadi. Sikap Cornelis mengganggu konstelasi politik dagang yang sudah sangat mapan. Belanda mulai mendirikan kantor dagang. Cornelis dipaksa angkat kaki dari Banten.
Alasan Sultan Banten menyambut baik kedatangan bangsa Belanda pada 1596 itu adalah Belanda hanya berkonsentrasi pada masalah perdagangan.
Namun, para awak kapal akhirnya menunjukkan tabiat buruk dan tidak menghormati masyarakat setempat. Itulah yang membuat Cornelis de Houtman dan seluruh awak kapalnya diusir dari tanah Banten.
Penolakan yang ditunjukkan oleh masyarakat Banten juga tidak lepas dari hasutan para pedagang Portugis, yang berusaha menghalangi Belanda berdagang di nusantara, kala itu.
Sejak mendarat di Banten, bangsa Belanda sering terlibat konflik dengan Portugis. Portugis yang lebih dulu datang, akhirnya menghasut masyarakat setempat.
Setelah diusir dari Banten, Cornelis de Houtman membawa rombongannya menyusuri pantai utara Jawa. Pada 1597, mereka kembali ke Belanda dengan rombongan yang tidak lagi utuh.
Namun, di sisi lain, mereka berhasil membawa banyak rempah-rempah untuk menunjukkan keberhasilan mereka.
Ekspedisi kedua
Pada 1598, Belanda kembali mendarat di Banten dengan ekspedisi yang dipimpin oleh Jacob van Neck. Dalam perjalanannya, Jacob van Neck dibantu oleh van Waerwijck dan van Heemskerck.
Kedatangan Belanda ke Indonesia yang kedua ini berusaha memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh ekspedisi Cornelis de Houtman cs.
Mereka bersikap lebih ramah dan menghargai masyarakat Banten. Selain itu, rombongan kedua ini memberi cendera mata berupa tempat minum dari emas murni kepada penguasa Banten. Berbekal kepandaian mereka dalam berdiplomasi, rombongan Jacob van Neck diterima dengan baik oleh masyarakat Banten.
Hubungan baik tersebut semakin terlihat saat Banten mengizinkan Belanda mendirikan kator dagang atau loji setelah memberikan jaminan sejumlah uang. Sehingga pada 1602, di Banten telah terdapat empat loji milik Belanda.
Di sisi lain, kehadiran bangsa Belanda juga membawa banyak pengaruh terhadap Kesultanan Banten. Bahkan pada periode ini mulai terjadi pertentangan di antara keluarga kerajaan yang saling berbeda kepentingan.
Orang Belanda yang Pertama Kali Mendarat di Banten Tahun 1596
Orang Belanda mendarat pertama kali di Banten pada tahun 1596. Kedatangan orang Belanda ke nusantara merupakan bagian upaya bangsa Eropa berlomba-lomba mencari daerah penghasil rempah-rempah setelah jatuhnya Konstantinopel ke bangsa Turki Utsmani.
Orang Belanda yang pertama kali berhasil mendarat di Banten tahun 1596 adalah Cornelis de Houtman. Dia mendarat bersama pelaut ekspedisi Belanda.
Orang Belanda kedua yang kemudian mendarat di Banten adalah Jacob van Neck dan rombongan pada tahun 1598. Rombongan ekspedisi kedua Belanda tersebut kemudian berlaku sopan dan hormat pada penduduk setempat, sehingga diterima dengan baik.
Rombongan ekspedisi kedua tersebut menghasilkan muatan kapal penuh rempah-rempah saat kembali ke Belanda. Keberhasilan ekspedisi Belanda kedua tersebut mendorong pedagang Belanda datang ke Indonesia.
Sejak saat itu, pedagang belanda berbondong-bondong melakukan pelayaran ke wilayah-wilayah di nusantara. Saat itu, belum ada ikatan yang mempersatukan dan memperkuat kedudukan pedagang Belanda di nusantara.
Johan van Oldenbarneveldt lalu mengusulkan agar penduduk Belanda membuat kongsi dagang seperti yang dilakukan Inggris dan Prancis. Pada 20 Maret, Belanda mendirikan kongsi dagang yang bernama Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Persekutuan Perusahaan Hindia Timur.
Tujuan didirikannya VOC adalah:
- Menghilangkan persaingan yang akan merugikan para pedagang Belanda.
- Menyatukan tenaga untuk menghadapi saingan dari bangsa Portugis dan pedagang-pedagang lainnya di Indonesia.
- Mencari keuntungan yang sebesar-besarnya untuk membiayai perang melawan Spanyol.
Keberadaan VOC di nusantara tersebut menjadi cikal-bakal penjajahan Belanda di bumi nusantara.
Berdasarkan catatan sejarah, Pelabuhan Karangantu pernah menjadi bagian dari Jalur Sutra. Jan Pieterzoon Coen, Gubernur Belanda kala itu, pernah mencatat terdapat enam perahu China membawa barang berharga senilai 300 ribu real.
Ramainya Pelabuhan Karangantu tak lepas dari kejelian Sultan Banten Maulana Hasanudin. Pada era kepemimpinannya, pusat pemerintahan dipindahkan dari bagian hulu ke hilir Sungai Cibanten. Tujuannya untuk memudahkan hubungan dagang dengan pesisir Sumatera melalui Selat Sunda.
Pihak Banten pada masa itu membaca situasi politik dan perdagangan di Asia Tenggara. Saat itu, pedagang dari mancanegara risau karena Malaka jatuh ke tangan Portugis.
Karena pedagang Muslim yang tengah bermusuhan dengan Portugis enggan berhubungan dagang dengan Malaka, para pedagang yang berasal dari Arab, Persia, dan Gujarat, mengalihkan jalur perdagangan ke Selat Sunda. Mereka pun singgah di Karangantu.
Sejak itu, Karangantu jadi pusat perdagangan internasional yang disinggahi pedagang Asia, Afrika, dan Eropa. Hal itu dibuktikan dengan peninggalan keramik dari Tiongkok, Jepang, dan Belanda yang tersimpan rapi di Museum Banten.
Karangantu dulu merupakan pelabuhan yang ramai di daerah Banten. Karangantu merupakan pintu masuk kapal-kapal menuju daerah Banten dan pelabuhan terbesar kedua setelah Sunda Kelapa.
Bandar Banten merupakan bandar internasional dan dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Arab, Persia, Gujarat, Birma, Tiongkok, Perancis, Inggris dan Belanda.
Sebagai pelabuhan kedua, Banten telah menjadi pelabuhan pengekspor beras dan lada (Cortesso, 1941; Roelofsz, 1962:124). Catatan lebih terperinci didapat dari Barbosa yang menyebutkan bahwa dari pelabuhan Banten tiap tahun telah diekspor lada sebanyak seribu bahar (Chijs, 1881:4).
Selain sebagai pelabuhan kala itu, Karangantu juga berfungsi sebagai pasar untuk usaha meningkatkan jual beli barang dagangan, seperti tekstil dan keperluan sehari-hari lainnya.
Pelabuhan Karangantu yang terletak di Kasemen, Kota Serang Banten itu masih terlihat sibuk oleh kapal-kapal nelayan lokal. Hasil tangkapan para nelayan berupa ikan, udang, cumi, kepiting, kerang dan lainnya dijual di 'Pantai Gopek' sebutan Karangantu masa kini.
Diolah dari berbagai sumber
- Galian Kabel/Pipa Merusak Jalan, Direktur KPN: Pemilik Hajat Harus Bertanggung Jawab!
- Seba Baduy 2026 Banten Menarik Perhatian Kedutaan Besar Negara Asing
- Berikut Jadwal Seba Baduy 2026: Lebak-Pandeglang-Serang
- Gubernur Banten Rayakan Idulfitri Bersama Yatim Piatu dan Dhuafa
- Jalanan Rusak di Kota Tangerang Sachrudin Salahkan Air: Musuh Bebuyutan Aspal
- Banjir, Macet Hingga Jalan Rusak Mendegradasi Sachrudin, Pengamat: Tiga Dinas Under Perform, Berantakan!
- Wali Kota Tangerang Diminta Mundur Jika Tidak Mampu Atasi Banjir





